Rabu, 12 Mei 2010

perkembangan diri dan konsep diri anak


Perkembangan diri dan konsep diri

· Anak-anak awal

Menjelang akhir tahun kedua kehidupan anak-anak mengembangkan suatu rasa diri(a sense of self). Selama masa awal anak – anak , terjadi beberapa perkembangan penting dalam diri. Di antara perkembangan ini ialah menghadapi isu prakarsa versus rasa bersalah dan peningkatan pemahaman diri.

§ Prakarsa vs rasa bersalah

Hingga saat ini anak-anak telah yakin bahwa mereka adalah diri mereka sendiri yang selama masa awal anak-anak mereka harus menemukan menjadi apa mereka kelak. Anak – anak di tahap ini mulai melakukan proses identifikasi dengan orang tua mereka dan mengembangkan ketrampilan perceptual,motorik,kognitif dan bahasa untuk melakukan sesuatu.

Kemudian ada yang dinamakan prakarsa:digunakan untuk peralihan dunia anak-anak ke suatu dunia social yang lebih luas dan pengaturan utama prakarsa ialah kata hati(conscience). Anak –anak pada tahap ini sudah mengembangkan pengawasan diri dan mendengar suara batin mereka. Anak –anak meninggalkan tahap ini dengan suatu rasa prakarsa yang melampaui rasa bersalah sangant bergantung pada bagaimana orang tua tanggap terhadap kegiatan – kegiatan yang mereka prakarsai sendiri. Prakarsa juga didukung bila orang tua menjawab pertanyaan anak – anak mereka dan tidak mencemooh atau menghambat kegiatan fantasia tau permainan. Sebaliknya , bila anak dibuat merasa bahwa kegiatan motorik mereka jelek,bahwa pertanyaan mereka mengganggu dan bahwa permainan mereka adalah konyol dan bodoh , maka anak seringkali mengembangkan suatu rasa bersalah atas kegiatan yang mereka prakarsai sendiri yang dapat berlangsung terus hingga tahap kehidupan selanjutnya.

§ Pemahaman diri

Ialah representasi kognitif diri anak , bahan dan isi konsep diri anak. Misalnya , seorang anak perempuan berusia 5 tahun memahami bahwa ia adalah seorang perempuan,berambut hitam , suka mengendarai sepedanya,memiliki seorang teman dan seorang perenang. Pemahaman diri seorang anak didasarkan atas berbagai peran dan kategori keanggotann yang mendefinisikan siapa anak itu. Walaupun bukan keseluruhan identitas pribadi , pemahaman diri member tian pondasi rasionalnya.

Awal pemahaman diri yang belum sempurna itu dimulai dengan pengakuan diri, yang berlangsung kira-kira pada usia 18 bulan. Pada masa awal anak-anak , anak – anak biasanya memahami diri dari sudut pandang fisik.

Disini juga terdapat dimensi aktif yang merupakan suatu komponen pokok diri pada masa awal anak-anak.

· Anak – anak tengah dan akhir

§ Perkembangan pemahaman diri

Pemahaman diri berubh secara pesat dari mendefinisikan diri melalui karakteristik eksternal menjadi mendefinisikan diri melalui karakteristik internal. Anak – anak tidak hannya menyadari perbedaan – perbedaan antara keadaan – keadaan dalam dan luar, tetapi juga lebih cenderung mencakup keadaan dalam yang subjektif dalam definisi mereka tentang diri sendiri. Di tahap ini anak sudah mengembangkan aspek – aspek social dan perbandingan social.

§ Peran pengambilan perspektif dalam pemahaman diri

Ialah kemampuan untuk mengambil perspektif orang lain dan memahami pemikiran dan perasaan – perasaannya.

§ Harga diri dan konsep diri

Harga diri ialah dimensi evaluative global dari diri. Harga diri juga diacu sebagai nilai diri atau citra diri. Konsep diri mengacu pada evaluasi bidang spesifik dari diri sendiri. Yang mempengaruhi konsep diri anak antara lain:relasi orang tua dan anak,keluarga,teman sebaya dan sekolah.

§ Peningkatan harga diri anak – anak

Harga diri anak – anak dapat ditingkatkan dengan empat cara berikut: pengidentifikasian sebab – sebab rendahnya harga diri dan bidang – bidang kompetensi yang penting bagi diri , dukungan emosional dan persetujuan social prestasi dan menghadapi masalah.

§ Tekun vs rendah diri(industry vs inferiority)

Anak – anak menjadi tertarik pada bagaimana sesuatu diciptakan dan bagaimana sesuatu bekerja. Bila anak – anak didorong dalam upaya mereka untuk berbuat , membangun , serta bekerja , maka rasa tekun mereka akan meningkat. Akan tetapi , orang tua yang melihat upaya anak – anak mereka dalam membuat sesuatu sebagai “kacau” atau “berantakan” dapat mendorong perkembangan rasa rendah diri pada anak – anak.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar